Mainan Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan

Orangtua kerap membeli mainan yang berbeda bagi putra dan putrinya. Padahal, banyak yang dapat dipelajari anak laki-laki dari mainan anak perempuan. Begitupula sebaliknya.

Berbeda secara fisik
Banyak mainan yang beredar di pasar dibedakan dan disesuaikan dengan jenis kelamin anak yang akan memainkannya. Pistol-pistolan, mobil-mobilan, maupun robot-robotan. Sedangkan bonek, alat masak-masakan, sertaperalatan berdandan ditujukan bagi anak perempuan. Kategorisasi ini tumbuh dalam masyarakat, tanpa dapat orangtua hindari.
Secara fisik, laki-laki dan perempuan memang terlahir berbeda. Karena pengaruh hormon dan struktur pada otak. Menurut para ahli, anak laki-laki menjadi lebih tinggi, lebih berat dan memiliki kekuatan otot yang lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan. Sedangkan anak perempuan lebih terkoordinasi secara fisik, lebih pandai menenangkan diri dan lebih ekspresif dalam berkata-kata serta tersenyum. Tidak heran jika anak laki-laki lebih aktif secara fisik dibandingkan dengan anak perempuan. Anak laki-laki dengan bekal kekuatan fisiknya lebih menyenangi permainan yang aktif dibandingkan dengan anak perempuan.

Lingkungan juga ikut berpengaruh
Pada dasarnya, perkembangan identitas gender seorang anak berawal antara usia 18 hingga 30 bulan. Pada usia tersebut, anak telah dapat menjawab pertanyaan “kamu laki-laki atau perempuan?” Di usia yang kedua anak mulai mengenal yang mana teman laki-laki dan mana teman yang perempuan. Dengan adanya perbedaan fisik, ditambah pengetahuan seorang anak terhadap identitas kelaminnya dan pengaruh lingkungan, maka terbentuklah peran jenis kelamin anak.
Masyarakat pun secara tipikal masih menetapkan tingkah laku seseorang berdasarkan jenis kelaminnya. Tampaknya stereotip memang tidak dapat dihindari. Bahkan, orangtua yang menjalankan kesetaraan dalam pembagian tugas dan pengasuhan dalam keluarganya tetap dipengaruhi oleh gender dari televisi, buku, film, mainan dan masyarakatnya.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan anak perempuan yang aktif bergerak atau anak laki-laki yang ekspresif. Orangtua tidak perlu kuatir jika anak laki-lakinya melakukan kegiatan perempuan atau sebaliknya. Tingkah laku demikian tidak bisa menjadi dasar untuk meramalkan bagaimana perilaku seksual anak ketika dewasa nanti.
Memperkenalkan anak laki-laki maupun perempuan dengan berbagia ragam mainan tanpa membeda-bedakan jenis kelamin akan mendatangkan keuntungan yang lebih banyak bagi keduanya. Keragaman permainan akan ikut membangun kognitif anak. Misalnya anak laki-laki yang memiliki kesempatan bermain boneka, imajinasinya akan terasah. Sedangkan anak perempuan yang senang melakukan permainan aktif seperti anak laki-laki, akan berdampak positif terhadap perkembangan motoriknya.

Karena itulah, dorong dan rangsanglah anak untuk mencoba memainkan sebanyak mungkin ragam mainan yang bermanfaat. Selain itu, orangtua juga dapat menyediakan mainan non-gender, seperti instrumen musik, balok-balok berwarna warni, krayon, pasir dan sebagainya.
Kesempatan yang orangtua berikan kepada anak untuk memaninkan sebanyak mungkin permainan yang mereka inginkan, membuat anak percaya bahwa laki-laki maupun perempuan sama sama memiliki kemampuan untuk melakukan apapun sebaik yang mereka inginkan.

Topik yang berhubungan:

bocah laki ngentot bocah perempuan, mainan untuk anak laki laki dan perempuan, permainan laki laki bocah

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>