Beberapa Cara untuk Menangani Fobia Sekolah

Fobia sekolah perlu penanganan serius. Tujuan penanganan utama adalah segera kembali ke sekolah. Semakin lama tidak bersekolah, semakin sulit untuk kembali ke sekolah. Jenis penanganan meliputi penanganan psikolog anak, modifikasi prilaku (missal, mendapatkan hadiah kecil jika sehari saja bersekolah) dan menjalin kerjsama antara orangtua dan sekolah (missal, guru bertandang ke rumah untuk mendekati dan membujuk anak)
Sementara itu, hal terpenting adalah penanganan yang dapat dilakukan orangtua dirumah. Tekankan pentingnya sekolah dan beri masukan positif tentang sekolah kepada anak. Lepaskan anak secara bertahap. Tidak masalah jia ia mau belajar di sekolah, misalnya dengan cara diperpustakaan dulu karena masih menolak masuk kelas.
Segera konsultasikan hal ini kepada psikolog apabila anak benar-benar tidak mau sekolah. Sekarang ini ada pilihan home scholling bagi anak yang mengalami kesulitan bersekolah di lembaga pendidikan formal. Dalam home scholling, anak lebih banyak memiliki kebebasan dalam menentukan proses belajarnya, termasuk tempat, waktu dan materi belajarnya.
Namun pilihan ini hendaknya tidak tergesa-gesa dipilih sebelum mencoba segala usaha yang mengarah pada mengembalikan anak ke sekolah. Pilihan pindah sekolah pun bisa menjadi saah satu pertimbangan. Tetapi, harus dipikirkan matang agar disekolah yang baru, masalah yang sama tidak terulang lagi. Karena itu, orangtua sebaiknya perlu bersabar dan terus berusaha membujuk anak agar mau kembali bersekolah.
Dari gambaran diatas tentang cara penanganan masalah anak fobia sekolah tersebut, selebihnya bisa kita jabarkan sebagai berikut :
Pertama, tetap menekankan pentingnya bersekolah. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa terapi terbaik untuk anak yang mengalami fobia sekolah adalah dengan mengharuskannya tetap bersekolah setiap hari. Bagaimanapun, rasa takut harus diatasi dengan cara menghadapinya secara langsung. Menurut para ahli tersebut, keterpaksaan setiap hari masuk sekolah justru menjadi obat yang paling cepat mengatasi masalah fobia sekolah, karena lambat laun keluhannya akan berkurang hari demi hari. Makin lama anak diizinkan tidak masuk sekolah, aka makin sulit mengembalikannya ke sekolah. Kemungkinan besar anak akan coba bernegosiasi dengan orangtua, untuk menguji ketegasan dan konsistensi orangtua. Jika ternyata pada suatu hari orangtua akhirnya luluh, maka keesokan harinya, anak akan mengulang pola yang sama. Tetaplah bersikap hangat, penuh pengertian, namun tegas dan bijaksana sambil menenangkan anak bahwa semua akan lebih baik setibanya disekolah.
Kedua, buka komunikasi dengan anak dan perhatikan keluhan mereka. Memperhatikan keluhan anak dapat dilakukan melalui listening dan empathy. Listening berarti mendengarkan dengan hati apa yang diutarakan oleh anak, sehingga orangtua dapat memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan anak dibalik kata-kata yang diucapkannya. Sedangkan empathy adalah sikap rela menempatkan diri sisi anak. Dengan menempatkan diri pada posisi anak, orangtua dapat merasakan apa yang dirasakan anak, mengerti apa yang dimengerti anak, melihat apa yang dilihat anak, dan dipikirkan seperti apa yang dipikirkan anak. Dengan demikian, orangtua dapat memberikan perhatian dan mengambil tindakan dengan bijaksana.
Ketiga, berusahalah untuk tegas dan konsisten dalam bereaksi terhadap keluhan, rengekan atau tantrum anak yang tidak mau sekolah. Entah karena pusing mendengarkan suara anak tau karena amat mengkhawatirkan kesehatan anak, orangtua sering meluluskan permintaan anak. Tindakan itu tentu saja tidak sepenuhnya benar. Jika ketika bangun pagi anak segar bugar dan bisa berlari-lari keliling rumah ataupun sarapan pagi dengan baik, namun pada saat mau berangkat kesekolah tiba-tiba mogok, maka sebaiknya orangtua tidak melayani sikap “negosiasi” anak dan langsung mengantarnya ke sekolah. Satu hal penting untuk diingat adalah hindari sikap menjanjikan hadiah jika anak mau berangkat ke sekolah, karena hal ini akan menjadi pola kebiasaan yang tidak baik.
Keempat, konsultasikan masalah kesehatan anak kepada dokter. Jika orangtua tidak yakin akan kesehatan anak, bawalah segera ke dokter untuk mendapatkan kepastian tentang ada atau tidaknya problem kesehatan anak. Orangtua tentu lebih peka terhadap keadaan anak setiap harinya. Perubahan sekecil apapun biasanya akan mudah terdeteksi orangtua. Jadi, ketika anak mengeluhkan sesuatu pada tubuhnya (pusing, mual, dan sebagainya) orangtua dapat membawanya ke dokter praktek di pagi hari, agar setelah itu anak tetap berangkat ke sekolah. Selain itu, dokter pun dapat membantu orangtua untuk memberikan diagnosis, apakah keluhan anak merupakan pertanda adanya stress terhadap sekolah, ataukah karena penyakit lainnya yang perlu ditangani dengan seksama.
Kelima, bekerjsama dengan guru kelas atau asissten lain disekolah. Pada umumnya, para guru sudah biasa menangani masalah fobia sekolah. Hampir setiap musim sekolah tiba, ada saja murid yang mogok sekolah atau menangis terus, tidak mau ditinggal orangtuanya atau bahkan minta pulang. Orangtua bisa minta bantuan guru untuk menenangkan anak. Guru yang bijaksana tentu bersedia memberikan perhatian ekstra terhadap anak yang mogok sekolah, untuk mengembalikan kestabilan emosi anak sambil membantunya mengatasi persoalan yang dihadapi, yang membuatnya cemas, gelisah dan takut. Selain itu berdiskusi dengan guru untuk meneliti factor penyebab disekolah adalah langkah yang bermanfaat dalam upaya memahami situasi yang biasa dihadapi anak setiap hari.
Keenam, luangkan waktu untuk berdiskusi atau berbicara dengan anak. Luangkan waktu yang intensif dan tidak tergesa-gesa untuk dapat mendiskusikan apa yang membuat anak takut, cemas atau enggan pergi kesekolah. Hindarkan sikap mendesak atau bahkan tidak mempercayai kata-kata anak. Cara ini hanya akan membuat anak makin tertutup terhadap orangtua, sehingga ia tidak bisa terbuka dan masalahnya tak tuntas. Orangtua perlu menyatakan kesediaan untuk mendampingi dan membantu anak mengatasi kecemasannya terhadap sesuatu, termasuk jika masalahnya bersumber dari rumah sendiri. Orangtua perlu instrospeksi diri. Kalau perlu, orangtua pun sebaiknya mengubah sikap demi memperbaiki keadaan rumah tangganya.
Ketujuh, lepaskan anak secara bertahap. Pengalaman pertama bersekolah tentu mendatangkan kecemasan bagi anak, terlebih karena ia harus berada dalam lingkungan baru yang masih asing baginya dan tidak dapat ia kendalikan sebagaimana dirumah. Tidak heran banyak anak menangis sampai menjerit jerit ketika diantarkan ke sekolah. Pada kasus ini, orangtua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Pada beberapa sekolah, orangtua atau pengasuh diperbolehkan berada di dalam kelas selama 1-2 minggu, atau sampai batas waktu telah ditentukan pihak sekolah.
Kedelapan, konsultasikan kepada psikolog atau konselor jika fobia anak terjadi berlarut-larut. Jika anak tidak dapat mengatasi fobia sekolahnya hingga jangka waktu yang panjang, hal ini menandakan adanya problem psikologis yang perlu ditangani secara proporsional oleh ahlinya. Apalagi, jika fobia sekolah ini sampai mengakibatkan anak ketinggalan pelajaran, prestasinya menurun, dan muncul hambatan penyesuaian diri yang serius, maka secepat mungkin tuntaskan persoalan ini. Psikolog atau konselor akan membantu menemukan pokok persoalan yang mendasari ketakutan dan kecemasan anak, sekaligus menemukan elemen lain yang tidak terpikirkan oleh keluarga, namun justru timbul dari dalam keluarha sendiri.
Jadi persoalan mogok sekolah seyogyanya bukanlah masalah yang serius, kecuali ada masalah kesehatan serius. Namun, jika dibiarkan berlarut-laryt, maka dapat benar-benar menjadi masalah serius.

Topik yang berhubungan:

cara membujuk anak agar mau sekolah, membujuk anak agar mau sekolah, cara membujuk anak sekolah, fobia sekolah, cara membujuk anak untuk sekolah, cara membujuk anak mau sekolah, mengatasi anak fobia sekolah, cara agar bisa pindah sekolah, cara membujuk orang tua agar pindah sekolah, cara membujuk anak yang mogok sekolah

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>